|
Setelah mengalami rebound dari resesi parah selama satu tahun, ekonomi Amerika Serikat (AS) kehilangan energi dan berpotensi mengalami periode pertumbuhan lambat yang panjang.
Peringatan ini diucapkan para analis menanggapi hasil survei The Conference Board yang menyatakan keyakinan konsumen AS pada Juli anjlok seiring semakin sulitnya mencari pekerjaan. Prospek pasar tenaga kerja AS tetap suram, sementara pengangguran masih berada di 9,5 persen.
“Juli menjadi bulan yang menakutkan bagi konsumen. Meningkatnya kecemasan ketenagakerjaan dan ketakutan terjadi resesi kedua (double-dip recession) semakin menekan perilaku konsumen,” kata ekonom Briefing.com, Jeffrey Rose, dilansir dari AFP.
The Conference Board menyatakan, indeks perilaku konsumen pada Juli turun menjadi 50,4 poin dari posisi Juni di 54,3 poin. Ini penurunan lima bulan secara berturut-turut dan terburuk sejak Februari.
Sebelumnya jajak pendapat dari ekonom Reuters memprediksi turun menjadi 51 poin. Indeks sulitnya mencari pekerjaan naik ke 45,8 poin dari posisi Juni di 43,5 poin. Satu dari 10 warga AS memprediksi gaji mereka akan turun dalam enam bulan ke depan.
Klaim tunjangan pengangguran turun pada periode 18-24 Juli menjadi 459 ribu dari pekan sebelumnya di 464 ribu. Tapi, pemulihan ekonomi AS berada dalam bahaya tanpa kehadiran konsumen.
“Turunnya keyakinan konsumen membahayakan outlook pertumbuhan konsumsi,” kata ekonom Capital Economics, Paul Dales.
Warga AS saat ini khawatir akan terjadi resesi kedua. Apalagi pemerintah mengakhiri paket stimulus yang telah berhasil mendongkrak ekonomi dari resesi akibat defisit anggaran fiskal.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral AS (Fed) Ben Bernanke yang mengatakan bahwa outlook Paman Sam masih diliputi ketidakpastian.
Fed membuka wacana mengeluarkan kebijakan luar biasa guna mempertahankan pemulihan. Bank sentral diprediksi mempertahankan suku bunga mendekati nol persen hingga 2011 untuk menyembuhkan ekonomi.
“Kita tidak memprediksi terjadinya resesi kedua, tapi risiko nyata dari perekonomian adalah pertumbuhan yang lambat dalam periode yang panjang,” ujar analis Societe General Aneta Markowska.
Sementara AS membutuhkan pertumbuhan sebesar 2,5-2,7 persen agar bisa menurunkan tingginya pengangguran. “Pertumbuhan ekonomi yang saat ini terjadi memperkuat tren tingginya pengangguran dalam waktu yang lama,” tambah Markowska.
Pada Jumat 30 Juli besok, dijadwalkan Pemerintah AS akan mengumumkan estimasi produk domestik bruto (PDB) kuartal II/2010. Sebagian besar analis memprediksi ekonomi Paman Sam hanya tumbuh 2,5 persen pada April–Juni.
Ekonomi AS berhasil keluar dari resesi selama hampir dua tahun pada pertengahan 2009. Ekonomi tumbuh 2,7 persen pada kuartal I-2010 dan 5,6 persen pada kuartal IV 2009.
“Sebagian besar indikator menunjukkan pemulihan ekonomi AS pulih dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan kondisi resesi ringan maupun berat di masa lalu. Ekonomi tidak akan membaik dalam beberapa bulan,” kata Moody’s Economy.com.
“Pemulihan yang kuat di masa lalu dipicu oleh suku bunga industri strategis seperti perumahan dan automotif yang saat ini tidak terjadi. Dengan sedikitnya pemicu ekonomi yang bekerja, pelemahan dalam pertumbuhan tidak bisa dihindari,” kata Moody’s Economy.com.
“Mempertimbangkan konsumen yang lesu, belanja riil akan lemah selama sisa 2010,” tambah ekonom senior Moody’s Economy.com, Ryan Sweet.
Berdasarkan indeks Standard & Poor’s/Case-Shiller, pasar perumahan masih suram. Tingkat sita masih sangat tinggi. Rumah keluarga tunggal masih 29,1 persen, di bawah harga tertinggi empat tahun lalu.
Tujuh dari 20 wilayah perkotaan terbesar di AS mengalami penurunan harga rumah. Hampir semua analis meramalkan terjadi penurunan satu digit sebelum harga rumah mengalami kenaikan yang berkesinambungan. Saat ini tingginya stok rumah hasil proses sita membuat harga properti terancam.
“Bagi saya, resesi kedua akan terjadi sebelum kita sembuh dari resesi ini. Peluang double-dip lebih dari 50 persen,” ungkap profesor ekonomi Universitas Yale Robert Shiller. (kzn) |